Sang Pendeta Pejuang Toleransi

[ Eka Darmaputera ]
 
0
249
Eka Dharmaputera
Eka Darmaputera | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dia pendeta pejuang toleransi. Pendeta Emeritus Eka Darmaputera alias The Oen Hien pantas jadi panutan dalam hal toleransi dan kemajemukan agama. Pria kelahiran Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, 16 November 1942, itu meninggal dunia dalam usia 63 tahun, Rabu 29 Juni 2005 pukul 08.15 WIB di RS Mitra Internasional Jakarta. Eka mengidap penyakit lever yang berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.

Jenazah Eka disemayamkan hingga Minggu (3/7) di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jatinegara, Jalan Bekasi Timur IX No 6, Jakarta Timur. Selanjutnya jenazah diberangkatkan dari gereja untuk dikremasi di Krematorium Cilincing. Eka meninggalkan seorang istri, Evang Meyati Kristiani, dan seorang putra, Arya Wicaksana, yang tinggal di Australia bersama istrinya Vera Iskandar.

Pendeta bergelar doktor dalam bidang agama dan masyarakat dari Andover-Newton, Boston, Amerika Serikat (1982) itu selama ini bertugas sebagai pengerja (pengurus) di GKI Jatinegara sampai pensiun (emeritus). Dia telah melayani dan mengabdikan diri di lingkungan gereja kurang lebih 21 tahun. Hampir seluruh waktunya tercurah dalam pelayanan gereja dan sosial baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berbagai buku hasil karyanya sudah banyak diterbitkan dan diminati pembacanya.

Berbagai tulisan dan makalahnya disajikan dalam bahasa yang lugas dan tegas. Dia juga sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar. Rubrik “Sabda” yang merupakan artikel tetap Eka Darmaputera di Sinar Harapan dan dimuat setiap hari Sabtu merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang sangat diminati pembacanya, dan telah dibuat dalam bentuk buku.

Sinar Harapan (29/6/2005) memberitakan bahwa pada acara Malam Doa Bersama untuk Eka Darmaputera 9 Maret 2005,, Eka dalam pesan tertulisnya berkata, “Saya cuma mohon didoakan agar sekiranya benar ini adalah tahap pelayaran saya yang terakhir, biarlah Tuhan berkenan memberikan saya dan keluarga keteguhan iman, kedamaian dan keikhlasan dalam jiwa.”

Kendati dia sudah pensiun (emeritus), Eka tetap melayani jemaat GKI Jatinegara hingga akhir hayatnya. Idia juga mengajar di almamaternya di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta dan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Terlahir dengan nama The Oen Hien, anak seorang pewarung kecil di desa Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Sebuah keluarga yang hidup pas-pasan. Terkadang mereka berminggu-minggu hanya makan singkong. Dia anak sulung dari dua bersaudara.

Dalam pergaulan keseharian, dia lebih dikenal dengan nama Eka Darmaputera. Sejak kecil, dia memang sudah lebih senang bergaul dengan anak-anak muda penduduk asli. Kendati ayahnya melarang bergaul dengan ”anak kolong tangsi” (rumah mereka berdekatan dengan kompleks militer), Eka dengan sembunyi-sembunyi sering pergi ke rumah teman di kompleks militer itu.

Dia mengganti pakaiannya dengan sarung dan pici. Seringkali Eka bergabung dengan para ‘gang tangsi’ itu berkeliling naik sepeda ke Pecinan (perkampungan Cina). Tidak jarang mereka terlibat perkelahian.

Dia menamatkan pendidikan daasar dan menengah di SD Masehi, Magelang (1953), SMP BOPKRI, Magelang (1957) dan SMA Negeri, Magelang (1960). Setamat SMA, ia ingin masuk AMN, ingin menjadi militer. Tetapi, dengan pertimbangan ekonomi, akhirnya dia menerima ajakan seorang teman mendaftar di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STTJ).

Di sana dia diterima dan diasramakan di Jalan Proklamasi. Selama di asrama, seringkali dia kehabisan uang karena kiriman orangtua memang terbatas. Kadangkala saat kehabisan uang kenakalannya kambuh. Bersama teman-teman, dia malah pernah mencuri barang dalam gudang asrama untuk dijual.

Masalah keuangan kemudian sedikit teratasi setelah dia diterima mengajar di SMA BPSK Jakarta, dengan gaji Rp 1.500 sebulan. Selain itu, Eka juga aktif dalam berbagai kegiatan Dewan Gereja Indonesia (kini Persekutuan Gereja di Indonesia). Dengan aktivitasnya di DGI itu, ia pun mendapat beasiswa.

Dia meraih gelar STh dari STTJ pada 1966. Setelah melayani di Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat selama sebelas tahun, kemudian ia dikirim mengambil gelar doktor di Boston College, Massachusetts, Amerika Serikat. Enam tahun dia di sana bersama istri dan anak tunggalnya, Arya. Setelah meraih gelar doktor (PhD) dengan disertasi berjudul Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society — An Ethical and Cultural Analysis, dia bersama keluarga kembali ke Indonesia.

Selama di Amerika, dia terutama puteranya, Arya, sangat bangga dengan keindonesiaannya. Tetapi beberapa hari setelah kembali ke tanah air, Arya dengan wajah murung datang menemui Eka, ayahnya. ”Why do they call me Chinese? I’m not, am I?” katanya. Eka dengan lirih menjawab, ”Ya, kau memang Cina. Namun, lebih dari itu, engkau Indonesia.” ti | crs

Data Singkat
Eka Dharmaputera, Pendeta dan Dosen / Sang Pendeta Pejuang Toleransi | Ensiklopedi | Pendeta, emeritus

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here