Programer Aksara Bali Simbar

 
0
452
I Made Suatjana
I Made Suatjana | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Berawal dari rasa penasaran I Made Suatjana yang awalnya berprofesi sebagai konsultan bangunan. Berkat kesabarannya mengutak-atik program aksara Bali dengan komputer. Karya pria kelahiran Gadungan, Tabanan, Bali 14 Mei 1947 ini, mengetik aksara Bali menjadi lebih mudah dan praktis. Program yang sudah beredar sejak 2009 dengan label Bali Simbar Dwijendra itu sudah terdaftar dalam Unicode, sehingga penggunaannya baku secara internasional. 

Sejumlah orang jika mengingat atau membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan aksara Bali, tentu merujuk I Made Suatjana dan perangkat lunak Bali Simbar. Keduanya saling melekat sejak lahirnya program aksara Bali dengan komputer berbasis Windows pada 1993.

Berawal dari adu kompetisi antarteman berhobi komputer, Suatjana jatuh cinta pada aksara Bali dan berusaha menyempurnakan programnya. Aksara Bali sekilas mirip aksara Jawa, hanya beberapa bagian yang terasa berbeda, termasuk penggunaannya.

Orang pun dimudahkan dengan adanya perangkat lunak (software) Bali Simbar untuk mengetik aksara Bali. Tinggal ketik kata hingga kalimat yang diinginkan, lalu tekan enter, dalam sekejap semua kata atau kalimat yang ditulis itu berubah menjadi aksara Bali. Mudah dan praktis!

Bahkan, program Bali Simbar versi terbaru 2009 bekerja sama dengan Universitas Dwijendra, Denpasar, sudah dilengkapi dengan sistem koreksi. Semua kata atau kalimat yang telah berubah aksara bisa langsung dikoreksi. Hampir tak ada kekurangannya. Namun, Suatjana mengaku masih ada kekurangannya meskipun tak mau mengungkap detail kekurangan itu.

“Beberapa orang yang sudah mengoperasikannya, lalu berkonsultasi mengapa begini dan begitu. Saya menyadari ada hal kecil yang terlewatkan,” ujarnya.

Puaskah Suatjana dengan pencapaiannya itu? Jawabnya, tidak. Alasannya, masih ada setumpuk keprihatinannya terhadap aksara Bali. Ia memikirkan nasib lontar-lontar kuno yang semestinya segera didokumentasikan, tanpa program bertele-tele. Dia menyanggupi jika pendokumentasian ini diserahkan kepadanya.

Pendokumentasian atau penyalinan lontar-lontar ini penting, terutama untuk mempermudah studi. Ia juga telah membuat program uji cobanya walaupun pemerintah setempat belum tergerak untuk melakukannya.

Suatjana tak menyangka karya “utak-atik” program aksara Bali dengan komputer ini bermanfaat bagi sebagian orang, seperti di lingkungan pendidikan dan penelitian. Ia memulai “perjalanan” itu dari proses pemikiran, mencari referensi hingga satu demi satu aksara diolah menjadi huruf sempurna di keyboard komputer.

Suatjana sebelumnya adalah konsultan bangunan, bukan ahli bidang komputer. Ketertarikannya pada komputer dimulai pada era 1980-an, saat perangkat lunak itu masih menjadi barang mewah dan hampir semua orang senang mengutak-atiknya. Beberapa temannya pun mulai berlomba menghasilkan program baru dengan komputer.

“Saya penasaran, lalu membeli seperangkat komputer yang saat itu masih dioperasikan dengan sistem DOS (disk operating system). Beberapa teman memamerkan hasil olahan mereka. Wah, saya juga harus bisa memamerkan sesuatu kepada mereka,” cerita Suatjana.

Ia teringat aksara Bali yang sepengetahuannya belum ada software-nya. Yang ada baru aksara Jawa. Perangkat lunak aksara yang ada pun di mata Suatjana masih kasar dan berbeda dengan aksara Bali. Aksara Bali bisa bertumpuk tiga, tengah adalah huruf inti dan bagian atas-bawah adalah tanda yang menjadikan satu huruf itu bisa terbaca.

Suatjana yang juga seorang pemangku (salah satu nama pemimpin dalam agama Hindu) ini mengolah aksara Bali dengan memanfaatkan program ChiWriter, sebuah program editor teks berbasis MS-DOS untuk keperluan sains, misalnya untuk menuliskan formula matematika.

Tahun 1988, selama sekitar delapan bulan, ia berkutat dengan komputer. Program tersebut lalu ia bawa ke Pusat Dokumentasi (Pusdok) Provinsi Bali (kini di bawah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali). Meski sambutan dari pihak Pusdok saat itu biasa-biasa saja, ia tetap bersyukur telah diberi kesempatan berpameran di Pekan Kesenian Bali hingga tiga tahun berturut-turut.

Merasa percuma terus berpameran karena dianggap biasa saja, ia lalu mengundurkan diri meski tetap menjadi mitra Pusdok. Sampai suatu hari pada 1992 ada pihak swasta yang ingin membeli programnya senilai Rp 25 juta. Karena saat itu ia membutuhkan “pengakuan”, tawaran itu diterima Suatjana.

Tanaman hias

Setahun kemudian, 1993, ia terpacu mengolah kembali bentuk-bentuk aksara Bali agar lebih sempurna dengan program Windows. Inilah yang menjadi cikal bakal kemunculan Bali Simbar di Pulau Dewata.

Simbar, kata dia, berasal dari tanaman hias simbar menjangan (Platycerium bifurcatum) yang biasa menempel di pohon besar. Tanaman ini memiliki daun seperti tanduk menjangan. Bentuk daun yang menyerupai tanduk ini, di mata Suatjana, menyerupai lekuk-lekuk pada aksara Bali. Karena itulah, ia menamai programnya Bali Simbar.

Tahun 1996 Suatjana melebarkan sayapnya untuk melakukan alih aksara lontar. Ia coba menyalin sejumlah lontar untuk kesempurnaan bentuk serta fungsi aksara itu.

“Saya tidak mau berhenti dengan program aksara yang fungsinya untuk menyalin saja. Saya ingin lebih dari itu, seperti melengkapi kesempurnaan karena aksara Bali ini bisa berbeda munculnya pada penggunaan yang berbeda,” tuturnya sambil memperlihatkan operasional Bali Simbar dari laptopnya.

Suatjana juga membuat aplikasi dengan menggunakan program Microsoft Visual Basic. Aplikasi Suatjana ini bisa memanipulasi keyboard dan menghasilkan aksara-aksara Bali sempurna sesuai penggunaannya.

Seorang teman mengajaknya untuk mendaftarkan Bali Simbar dalam Unicode. Unicode adalah standardisasi komputasi dunia untuk masalah teks yang dikoordinasi oleh Unicode Consortium.

Konsorsium pengodean aksara tingkat dunia yang berpusat di Amerika Serikat itu mengirim utusannya ke Bali tahun 2005. Setahun kemudian Bali Simbar terdaftar dalam Unicode, yang berarti standar aksara Bali sudah bisa dibakukan secara internasional. Hanya penyempurnaannya dia serahkan kepada orang yang juga pemerhati aksara Bali.

Program berlabel Bali Simbar Dwijendra itu sudah beredar luas sejak 2009. Tetapi, Suatjana tak mau menyebutkan berapa nominal yang diterimanya dari kerja sama tersebut.

“Sudahlah, nominal tidak penting lagi. Yang terpenting adalah bagaimana aksara Bali ini bisa hidup lagi dan mudah dipelajari oleh siapa pun, umur berapa pun, untuk kepentingan pendidikan. Itu lebih penting dari segalanya,” kata Suatjana serius. e-ti | red

Sumber: Kompas, Rabu, 11 Agustus 2010 dengan judul ” Penggagas Program Aksara Bali Simbar” | Ayu Sulistyowati

Data Singkat
I Made Suatjana, Programer aksara Bali / Programer Aksara Bali Simbar | Wiki-tokoh | bali, programer, aksara, simbar, unicode

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here