Mitologi Si Raja Batak

Mitologi Leluhur Batak

 
0
87
Upacara Ritual Mangalahat Horbo saat Horja Bius Mangase Taon di Samosir (ca 1933) Foto:Koleksi NMVW

Leluhur Batak mewariskan mitologi tentang bagaimana Debata Mulajadi Nabolon (Allah Sang Khalik Maha Besar) menciptakan alam semesta dan manusia. Bagi sebagian orang, mitologi itu dianggap hanya dongeng atau mitos belaka. Namun dalam buku ini mitologi dimaknai merupakan kisah suci yang mendahului dan mengins­pirasi arah timbulnya filsafat (logika) dan menitiskan nilai-nilai yang secara empiris nyata dalam aktivitas kehidupan masyarakat Batak. Sebagaimana para filsuf mula-mula mengapresiasi dan menjadikan mitologi sebagai obyek penyelidikannya.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Dalam KBBI mitologi berarti n ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan; Mitologis, a sesuai dengan atau bersifat mitologi; Mitos, n cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.[1]

Mitologi terdiri dari kata mitos dan logos. Mitos (Bahasa Yunani) atau mite (mythe, Bahasa Belanda) menceritakan kejadian alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kosmologi, kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Sementara, kata logos (Bahasa Yunani) yang berarti sabda, atau ‘buah pikiran’ yang diungkapkan dengan perkataan, pertimbangan nalar, atau arti.  Dalam dunia filsafat (Herakleitos dan Stoa), logos diartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta, yang disebut logos spermatikos. Manusia yang di­ciptakan Allah mempunyai logos, baik sebagai budi atau rasio disebut logos endiathetos, maupun sebagai kemampuan berbicara disebut logos proforikos.[2]

Kata logos dalam bahasa Ibrani, davar, sangat erat hubung­annya dengan penciptaan, kristologi, soteriologi dan teologi. Davar berarti hal yang berada di belakang, yang berarti firman Allah, yang dianggap sejajar dengan sofia (hikmat), yaitu perantara Allah dengan makhluk ciptaannya. Kata davar bisa menunjuk kepada berita-berita tersendiri yang diberikan kepada para nabi, atau kepada isi pernyataan dalam keseluruhannya. Davar mengandung kuasa yang serupa dengan kuasa Allah yang mengucapkannya (Yes 55:11).[3]

Jadi menurut kita (penulis), mitologi itu adalah kisah yang berkaitan dengan kuasa ilahi (logos spermatikos) yang oleh akal budi manusia (logos endiathetos) diungkapkan dengan kemampuan berbicara (logos proforikos) sebagai mitos (mythe) dalam bentuk cerita rakyat (folkloristika); berupa mitos kisah suci (supranatural, relijius) penciptaan dunia dan asal mula manusia dan suatu bangsa yang dipercaya kebenarannya (sebagai davar); karena didukung hal-hal dan kejadian yang memang dapat disaksikan setiap orang secara empiris dalam kehidupan masyarakatnya pada zamannya. Mitologi bukan sekadar cerita rakyat atau legenda biasa melainkan mitos kisah suci (supranatural) yang dikisahkan dalam bentuk cerita rakyat (folkloristika) dan dialami (dibuktikan) secara empiris oleh pemilik mitologi itu.

Paul Carus (1901) mengulas Mythologie en Godsdienst (Mitologi dan Agama) dalam De Godsdienst der Wetenschap (Agama Sains) menyebut mitologi adalah pendahulu dari agama kebenaran. Mitologi adalah langkah penting dalam pengembangan agama dan sains. Manusia awalnya memilih bentuk mitologis ketika mewakili pemikirannya.[4]

Menurut Paul Carus, adalah salah bagi ahli kimia untuk memandang rendah alkemis (alchimist) masa lalu, sama salahnya dengan astronom yang berbicara dengan meremehkan pesulap bintang (Batak: Parhalaan) abad-abad sebelumnya. “Ini adalah bukti dari pikiran picik atau kurangnya pengetahuan untuk mengejek leluhur karena ia tahu lebih sedikit dari kita. Baron Liebig adalah ahli kimia terbesar pada masanya, namun ia berbicara dengan penuh hormat tentang aspirasi dan karya para alkemis. Kita harus berterima kasih dan tidak membenci mereka; janganlah kita membenci antropoid yang telah menjadi manusia, yang mampu mencapai perkembangan tertinggi pada masanya.”[5]

Mitologi leluhur Batak tentang penciptaan alam semesta dan manusia mengisahkan (turiturian suci, folklore) asal-usul Si Raja Batak[6] sebagai titisan illahi Debata Mulajadi Nabolon (Allah Khalik Maha Besar), yakni sebagai keturunan (generasi keenam) dari Batak pertama (Ihat Manisia dan Itam Manisia), yang berarti manusia pertama ‘Adam dan Hawa’ versi mitologi Batak. Dalam konteks mitologi Batak tersebut, arti kata Batak adalah manisia (manusia), baik sebagai pribadi manusia pertama (Ihat Manisia dan Itam Manisia atau Kakek-Nenek Moyang Manusia), maupun sebagai sebutan manusia kolektip.

Advertisement

Mitologi (teogoni) Batak, selain dituturkan secara lisan juga ditulis dalam Pustaha Laklak yakni buku beraksara Batak yang ditulis di atas kulit kayu yang dihaluskan dan diawetkan sehingga menjadi seperti kertas tebal. Buku Pustaha Laklak berisi teogoni, kerajaan dan tata nilai peradaban Batak itu ada di beberapa tempat; Di antaranya, sebagaimana dikemukakan Dr. HN van der Tuuk (1853) ada di Aek na Uli, Doloksanggul Humbang dan Silindung;[7] Terutama dalam Pustaha Bangkara (Arsip Bangkara) yang ditulis Si Singamangaraja I sampai XI, sebanyak dua puluh satu jilid, setinggi lebih dua meter. Tetapi Pustaha Laklak yang ditulis Dinasti Si Singamangaraja tersebut, sudah tidak kelihatan, sejak Belanda membakar Istana Raja Si Singamangaraja di Bangkara pada Maret 1878. Ada yang menyebut, Pustaha Si Singamangaraja tersebut diamankan oleh Belanda, namun kemudian dihancurkan untuk mengaburkan asal-usul dan peradaban Batak untuk kepentingan penjajahannya.[8] Tetapi sampai hari ini tidak ada pengakuan atau bantahan Belanda tentang hal ini.

Namun, 91 tahun sebelumnya, pada tahun 1787, J.C.M. Radermacher dalam Beschryving van Het Eiland Sumatra, in Zo Verre Het Zelve tot Nog toe Bekend Is (Deskripsi Pulau Sumatra, Sejauh Dikenal Sampai Sekarang), pertama kali orang asing menulis secara singkat substansi Mitologi (Teogoni) Batak, dalam versi Angkola-Mandailing, walau tidak sempurna masih relatif sama dengan versi Toba (asli), telah menyebut tentang teogoni penciptaan Bumi dan manusia yang berpusat di Bangkara, dan menyebut berkepercayaan kepada Dewa Battara Goeroe, Sorie pada dan  Mangala boelang[9] (Maksudnya: Debata Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan). Kemudian tahun 1811 disusul (dikutip) oleh William Marsden, dalam The history of Sumatra.[10]

Menurut penulis berisinial GKN (1870) dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Majalah untuk Hindia Belanda) berjudul Bijdrage Tot De Kennis van den Godsdienst der Bataks (Kontribusi untuk Pengetahuan Agama Batak) menyebut penulis asing pertama yang memberikan sedikit laporan tentang aga­ma Batak, atau lebih tepatnya menyentuhnya pada subjeknya adalah Fernao Mendes Pinto dalam Peregrinagao-nya (Lisboa 1762); Namun, kredibilitas pengembara abad keenam belas ini sering diragukan, dan apa yang ia sebutkan tidak terlalu pen­ting.[11] Menurut GKN, tidak diragukan lagi sumber-sumber terbaik dan paling penting adalah tulisan-tulisan H.N. van der Tuuk, khususnya buku bacaan bahasa Batak dan kamus bahasa Bataknya, dan setelah ini yang kadang-kadang pernyataan yang tidak penting ditemukan dalam Berichte der Rheinischen Missionsgesellschaft (Laporan dari RMG).[12]

Radermacher dan William Marsden menyebut orang Batak memiliki banyak kisah luar biasa, yang mana pengetahuan me­ngenai mitologi (teogoni) Batak tersebut diperoleh dari M. Siberg, Gubernur Hindia Belanda di pantai Sumatra dan Jawa. William Marsden mengungkapkan dia mengetahui teogoni Batak dari buku Radermacher, yang bersumber dari M. Siberg: “Kami berhutang budi kepada M. Siberg, gubernur Hindia Belanda di Jawa (pen: sebelumnya, 1787, Radermacher menyebut Siberg Gubernur Pantai Sumatra; tahun 1811 sudah menjadi Gubernur Jawa), yang olehnya kisah tersebut dikomunikasikan kepada almarhum M. Radermacher, anggota terhormat Masyarakat Batavia, dan olehnya diterbitkan dalam bukunya.”[13]

Radermacher (1787) menyebut orang Batak memiliki beberapa dongeng yang ditulis dalam buku-buku kulit pohon, dan bambu bulat. “Ketika mereka ingin mencatat sesuatu, mereka mengambil kulit pohon tertentu, yang mereka sebut Aliem, dan menjadikannya halus dan setipis kertas, lalu menulisnya sendiri dengan Rystwater (air padi); tinta yang mereka gunakan untuk menulis di atasnya, mereka membuat dari jelaga dammer atau harpuis asli, dicampur dengan tebu, dan merica.”[14]

Radermacher juga menyebut orang Batak memiliki Heilig Boek (Kitab Suci) sebagaimana dinyatakan Tuan Siberg, Gubernur Jawa, bahwa Kitab Suci tersebut ditulis dengan aksara Batak, panjangnya sekitar tiga inci, dengan lebar dan ketebalan yang sama dalam penjilidan kulit, berisi berbagai hal terutama mengenai kehidupan. Di bawah perikop Heilig Boek, Radermacher menulis:

Heilig Boek.De Heer Siberg, Gouverneur van Java, heeft aan het Genootfchap vereerd een van hunne Heilige boeken, omtrent drie duimlang, even breed en dik in een lederen band , vol met hunne Caracters gefchreeven, en waarmede zy in alle gevallen van ‘t leeven eerst raadpleegen , door middel van een klein ftuk bamboes , waar op , insgelyks eenige Caracters gefchreeven zyn en met hetwelk zy dit Raadzelboek vergelyken.[15]

Radermacher atas ‘kesaksian’ Tuan Siberg, Gubernur Hindia Belanda pantai Sumatra, menyebut mengetahui Mitologi (teogoni) Batak dari Pustaha Laklak, yang mereka sebut sebagai Heilig Boek. Suatu pernyataan (kesaksian) sangat pen­ting; Sebab belakangan, sudah tidak ditemukan lagi Pustaha Laklak berisi turiturian, tata nilai adat dan hukum Batak, atau yang termasuk kategori Pustaha Agong maupun Pustaha Tumbaga Holing. Manusikrip Pustaha Laklak yang kini banyak (ribuan) disimpan di berbagai perpustakaan atau museum dunia, khususnya Universitas Leiden, semuanya tentang ilmu sihir, ramalan (parhalaan), pengobatan dan yang berkaitan dengan hadatuon (kedukunan), yang kebanyakan merupakan penyimpangan dari Pustaha Agong tentang kemaliman dan Pustaha Tumbaga Holing tentang kerajaan dan kemasyarakatan. Tidak ada berisi tentang teogoni, kerajaan, sistem kemasyarakatan, adat dan hukum, umpama-umpasa dan nilai-nilai peradaban Batak lainnya. Namun (untungnya), semua perihal teogoni (mitologi), nilai-nilai ideal dan peradaban tersebut dikisahkan secara lisan dan hidup secara empiris dalam keseharian orang Batak.

Hanya saja, ada kelebihan dan kelemahan turiturian lisan tersebut. Kelebihannya, kisah turiturian tersebut hidup secara empiris dalam keseharian orang Batak. Kelemahannya, elemen kisah turiturian tersebut bisa terdegradasi atau kehilangan keas­liannya, yang berakibat timbulnya ‘jalan cerita’ beberapa versi. Sebagaimana dikemukakan M. Joustra (1907) dalam pengantar tulisannya Karo-Bataksche Vertellingen (Turiturian Batak Karo): I. Si Laga Man; II. Si Adji Doenda Katekoetan; III. Sarindoe Toeboeh: I. Si Laga Man), berasumsi bahwa karena orang tidak tahu cerita aslinya, mungkin ada fitur yang tidak memungkinkan penjelasan mitos, dan mungkin juga diasumsikan bahwa elemen mitos asli telah kehilangan kemurniannya di sana-sini.[16]

Mitologi (teogoni) Batak yang dituturkan secara lisan maupun ditulis dalam Pustaha Agong dan Tumbaga Holing tersebut adalah narasi terbaik tentang asal-usul manisia (Batak), kepercayaan kepada Debata Mulajadi Na Bolon dan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu, serta nilai-nilai kebatakan lainnya.

‘Ketiadaan’ (dimusnahkannya) sumber tertulis (Heilig Boek) tentang mitologi tersebut telah mengakibatkan orang asing ‘sesuka hati’ menulis tentang Batak; Bahkan ada orang asing dan misionaris yang menyebut Si Singamangaraja bukan Batak melainkan keturunan Minangkabau dan/atau Aceh. Suatu penyesatan keji miskin moral.

Sarah Amelia Scull (1880) dalam Greek Mythology Systematized mengatakan tema mitologi adalah selengkap kepentingan manusia dan setinggi aspirasi manusia. Lingkup umumnya dapat diindikasikan secara umum, tetapi untuk memahami kedalaman, luasnya, dan sugestif, pengetahuan seseorang harus dalam, luas dan progresif. Sarah menyebut banyak makna diberikan kepada mitos oleh Webster ketika ia mendefinisikannya sebagai “pernyataan atau narasi luar biasa atau imajiner yang menyampaikan kebenaran penting, umumnya bersifat moral atau religius;“ Dan tentu saja betapa luasnya ruang lingkup ditutupi oleh definisi mythology sebagai ‘Tubuh kolektif legenda dan dongeng populer yang menghormati tindakan supernatural para dewa, illahi dan pahlawan.“ Tetapi definisi ini, betapapun luasnya, akan berlaku untuk mitologi yang dianggap hanya sebagai produk pemikiran manusia, dan oleh karena itu hampir tidak dapat lengkap, karena setiap sistem mitologis mencakup begitu banyak kepercayaan religius dan harapan sehingga tampaknya dalam arti luasnya: Mitologi memahami pencarian manusia akan kebenaran agama yang lebih baik.[17]

Sarah Amelia Scull mengatakan mengingat bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat mengungkapkan kebenaran rohani, pada ambang penyelidikan sistem mitis pertanyaan-pertanyaan ini muncul: Pertama, bagian mana dari sistem ini yang me­rupakan produk dari pikiran manusia? Kedua, seberapa jauh itu telah dimodifikasi oleh kebenaran yang diungkapkan? “Jika kita hanya mempertimbangkan apa yang dapat dicapai oleh pikiran manusia, bidang penelitian tanpa akhir terbuka di hadapan kita. Kita mungkin memperhatikan materi-materi yang diberikan alam kepadanya dalam persepsi-indra yang beragam seperti halnya objek-objek dan perubahan-perubahan alam semesta material. Jika kita mengikuti hasil dari proses misterius dalam pikirannya, kita akan menemukan dia menciptakan simpanan materi baru yang kaya, percaya pada supranatural, dan kemudian mempersonifikasikan apa yang dia yakini.”[18]

Begitu dalamnya makna mitologi tersebut; Sehingga dengan ‘dimusnahkannya’ mitologi tertulis Batak, orang asing bisa dengan seenaknya menulis tentang Batak. Sementara sumber lisan mereka anggap hanya dongeng tak bernilai. Walaupun tidak semua orang asing menganggap cerita rakyat lisan tersebut tak bernilai, karena kisah folklor itu hidup empiris di tengah masyarakatnya, sehingga memiliki nilai sejarahnya secara khas.

Stith Thompson (1955) dalam makalahnya Myths and Folktales (Mitos dan Cerita Rakyat) mengatakan semua setuju bahwa cerita tentang para dewa dan aktivitas mereka secara umum adalah mitos. Bahwa mitos berkaitan dengan para dewa dan tindakan mereka, dengan ciptaan, dan dengan sifat umum dari alam semesta dan bumi. Aspek lain dari mitos, dimana  masyarakat primitif membuat diferensiasi di mana makhluk superior mereka, dianggap benar-benar sebagai dewa atau sebagai pahlawan budaya. Setiap mitos memiliki sejarahnya sendiri karena setiap cerita rakyat memiliki sejarahnya sendiri.[19]

Crawford Howell Toy (1913) dalam Introduction to The History of Religions membedakan mitos dengan legenda. Dalam perjalanan perumusan mitos, secara alami menjadi berbaur dengan legenda. Ketika menceritakan pencapaian tokoh-tokoh supernatural yang hebat di masa lalu, pencapaian-pencapaian ini sering kali menjadi berbaur dalam senja tradisi dengan pengalaman klan atau suku yang sebenarnya (meskipun diperindah) dan orang-orang hebat yang terhubung dengannya. Dalam kasus seperti itu pada umumnya sulit untuk memutuskan di mana legenda berakhir dan mitos dimulai, dan setiap cerita harus diselidiki secara terpisah, dan sifatnya ditentukan dari apa yang diketahui dari sejarah nyata waktu itu dan perkembangan ide-ide mitos. Bahan yang diterbitkan di bawah judul umum “cerita rakyat” terdiri dari berbagai elemen – penggunaan dan ide-ide keagamaan murni, narasi mitos dan legendaris, dan cerita-cerita fantastis. Crawford Howell Toy menekankan perbedaan mitologi dengan legenda, bahwa sebuah mitos adalah penjelasan fenomena yang murni imajinatif; legenda bertumpu pada fakta, tetapi faktanya terdistorsi.[20]

Crawford Howell Toy menyebut kesamaan dalam mitos di seluruh dunia mencakup seluruh wilayah agama. Dia menyebut mitos dapat dibagi yakni: 1) Mitos kosmogonik, yang berurusan dengan penciptaan dunia dan manusia; 2) Mitos etnogonik, yang berurusan dengan asal-usul suku dan bangsa; 3) Mitos sosiogonik, yang merujuk pada asal-usul adat dan institusi; dan 4) Mitos (pen: Astronomik) yang didasarkan pada bentuk dan gerakan benda langit, awan, angin, dan sebagainya (matahari, bulan, proklar, dan sebagainya).[21]

David Bidney (1955) dalam Myth, Symbolism and Truth (Mitos, Simbolisme dan Kebenaran) mengatakan interpretasi manusia terhadap dunia disebut telah berkembang melalui tiga tahap: tahap mitos, tahap epik, dan tahap sejarah. Tahap mitos berubah menjadi tahap epik ketika manusia mendasarkan perilakunya pada beberapa gagasan tentang ‘manusia teladan’, atau kultus pahlawan. Tahap bersejarah muncul ketika manusia berhenti memandang masa lalu yang patut dicontoh dan menetapkan bagi dirinya sendiri tujuan dan sarana rasional untuk pencapaiannya.[22]

Namun, periodisasi ketiga tahap tersebut tidak bersifat mutlak. Seperti dikatakan Eric Dardel, dalam “The Mythic,” Diogenes, No. 7 (Summer, 1954), pp. 33-51 bahwa setiap periode menyatakan kebenarannya. ‘Kebenaran’ kita saat ini sering kali hanya mitos yang tidak tahu itu adalah satu mitos, seperti yang dikatakan M. Jourdain (Dardel, “The Mythic,” hal. 37), kita membuat mitos setiap hari tanpa menyadarinya. Fungsi pembuatan mitos adalah fenomena universal dan fundamental yang motivasi emosinya sebagian besar tidak disadari.[23]

Menurut David Bidney bahwa mitos, meskipun didasarkan pada naluri dan emosi (pen: berpusat pada hati), mengandung kebijaksanaan yang tidak disadari; itu bukan sesuatu yang harus digantikan oleh sains, meskipun ia mungkin menganggap wajah sains dan diksi akal. “Singkatnya, mitos melampaui kebenaran dan kepalsuan. ‘Kebenaran’ mitos adalah fungsi dari keefektifan pragmatis dan dramatisnya dalam menggerakkan manusia untuk bertindak sesuai dengan cita-cita khas yang penuh emosi. Efektivitas mitos sebagian besar bergantung pada ketidaktahuan atau ketidaksadaran motivasi sebenarnya. Itulah sebabnya mitos cenderung surut sebelum kemajuan akal dan refleksi diri. Tetapi mitos memiliki fungsi abadi untuk dilakukan dalam memberikan dasar bagi keyakinan dan tindakan sosial.”[24]

Louis Henry Jordan (1855-1923) yang telah melakukan banyak hal untuk memperkenalkan studi ilmiah yang ketat tentang Mytology dan Comparative Mythology, mengatakan bahwa bentuk paling awal dari semua doktrin mendasar dari agama-agama besar yang hidup dapat ditemukan dalam mitologi dari satu atau lebih bangsa-bangsa kuno. Dalam bukunya Comparative Religion (1915), Louis Henry menyebut, bahwa jejak-jejak mitologi dapat ditemukan sebagai simpanan bersejarah dalam dokumen-dokumen yang dihormati dari semua agama yang lebih tinggi; dalam Pentateuch of Yudaism, dalam Injil dan dalam Kitab Bevelation of Christianity, dan dalam Kitab Suci berbagai bangsa yang tersebar di seluruh dunia.[25]

Maka dia menekankan untuk melihat Mitologi dengan cara yang lebih luas, lebih cerdas, dan jauh lebih simpatik. Seseorang yang benar-benar terpesona atas sejarah dan/atau kisah legenda aneh, menerimanya sebagai bagian integral dari pengajaran res­mi religion mereka; Oleh karena itu, penting dalam perhatian kritis terhadap cerita-cerita ini, bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang boleh dihina, atau diejek secara terbuka, atau diperlakukan seolah-olah semuanya dapat diabaikan sepenuhnya. “Mereka yang menghancurkan legenda seringkali merupakan pengacau yang lebih besar daripada para penghancur arsip,” tegas Louis Henry Jordan. Tentu saja, lanjutnya,  ketika kecerdasan umum berkembang, tidak dapat dihindari bahwa konsepsi sebelumnya harus direvisi dan dinilai kembali; setelah beberapa waktu, mitos yang digantikan itu tanpa ragu akan di­buang.[26]

Louis menjelaskan, tidak ada agama yang sepenuhnya didasarkan pada mitologi. Selain itu, tidak se­mua mitos memiliki makna keagamaan; seringkali hanyalah ciptaan imajinatif, dan tidak sebagai hal lain. Namun demikian, banyak agama tidak akan pernah bisa dipahami dengan benar sampai seseorang dapat berpikir kembali ke masa masa kanak-kanaknya. Jika, seperti yang dikatakan seseorang bahwa Sihir adalah ‘ilmu’ primitif, itu cukup adil untuk menganggap Mitologi sebagai produk filsafat primitif. Dalam kaitan ini, ia menyebut, hubungan mitologi dengan psikologi sekaligus akan dirasakan bahwa mitos memberikan kepada psikolog salah satu cara terbaik untuk memeriksa sifat penuh agama dalam bentuk yang beragam.[27]

Rev. Professor Dr. E.O. James, dalam The Beginnings of Religion, An Introductory and Scientific Study (Awal Mula Agama, Suatu Pengantar dan Studi Ilmiah) mengatakan topografi mitologis tidak hanya ‘mengkonfirmasi iman’ menghormati hal-hal yang dilakukan di pusat-pusat kultus, tetapi juga menghubungkan kelompok dengan wilayah kesukuannya dan menyediakan rute umum antar suku menuju ke lubang air (water-holes) dan ber­ba­gai ritual sakral yang harus dikunjungi dari waktu ke waktu.[28]

Setiap suku, kata E.O. James, adalah penjaga tradisi tertentu dan bertanggung jawab atas diberlakukannya mitos dan ritual yang terkait dengan situs-situs di wilayahnya, sehingga membuat kontribusinya sendiri pada kultus dan mitologi sebagai keseluruhan gabungan. “Dengan cara ini, pengetahuan suci dan ritus-ritusnya menjadi kekuatan konsolidasi dalam masyarakat, yang didasarkan pada masa lalu kuno dan para pahlawannya. Apa yang mereka lakukan selama pengembaraan dan tinggal di bumi di Mimpi Waktu (Dream Time) harus dilakukan sekarang oleh keturunan mereka karena pada kinerja yang tepat dari kultus leluhur ini di tempat-tempat yang tepat tergantung pada kesejahteraan suku. Jadi mitos hidup dalam ritualnya, dan periode kreatif di masa lalu adalah kenyataan yang selalu hadir, ditampilkan kembali secara tradisional pada acara-acara seremonial yang besar.”[29] Lebih lanjut Rev. Professor E.O. James mengatakan:

“Dengan membumikan tatanan yang mapan dalam realitas supernatural mitologis, stabilitas diberikan kepada struktur sosial dan organisasi keagamaan, menjadikannya bukti melawan kekuatan perubahan dan pembusukan yang hancur. Selama diyakini bahwa peraturan yang menghormati pernikahan, misalnya, ditetapkan sekali dan untuk selamanya oleh para leluhur pada awalnya, tidak ada penyimpangan dari aturan yang mungkin, lebih dari dalam pelaksanaan ritual tradisional yang telah sama diresepkan dan dirasionalisasi dalam mitologi saat ini. Jika aturan rumit yang mengatur sistem kekerabatan muncul dengan cara ini, itu adalah alasan yang cukup dalam pikiran penduduk asli untuk ketaatan dan kelanjutan mereka, karena hukum yang ditahbiskan pada ambang sejarah manusia harus diperhatikan karena setelah itu telah diperbaiki untuk selamanya. Inilah esensi moralitas kesukuan di mana mitologi adalah pelindungnya.”[30]

Mitologi itu memberi jawaban atas misteri asal-muasal (buah pikiran puncak soal sebab-akibat pertama atau causa prima) alam semesta dan manusia dalam bentuk mitos (mite, kisah suci, supranatural, religi) yang pada masanya diyakini kebenarannya sebagai logos dalam arti buah puncak pikiran yang melahirkan religi; atau sebagai ilham (wahyu) dari Yang Maha Kuasa sebagai sabda atau dogma dalam pemahaman teologi. Leluhur Batak percaya, causa prima itu atau Yang Maha Kuasa itu adalah Debata Mulajadi Nabolon (Allah Khalik Maha Besar). Debata Mulajadi Nabolon yang dipercaya leluhur Batak dalam mitologi itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak bermula dan tidak berujung (kekal abadi dalam keluhurannya), yang dalam bahasa Kristiani disebut Alfa dan Omega (Wahyu 1:8).

Di samping itu, penelaahan budaya dan peradaban Batak betapa perlu juga mendekati subjek mitologisnya dari sudut pandang psikologis, terutama menyangkut hati dan karakter Batak, di samping aspek-aspek lainnya (sosial, adat, hukum, agama, artistik, sastra dan lain-lain). Sebagaimana dilakukan Samuel Noah Kramer (1963) yang mencurahkan serangkaian studinya untuk menelaah aspek psikologis peradaban Sumeria, terutama dari dokumen sastranya, yang ditulis dalam The Sumerians; Their History, Culture, and Character (Bangsa Sumeria; Sejarah, Budaya, dan Karakter Mereka); Sebagai kelanjutan dari artikelnya berjudul “Love, Hate and Fear: Psychological Aspects of Sumerian Culture,” (Cinta, Benci dan Takut: Aspek Psikologis Budaya Sumeria), dimana dia menggambarkan peran cinta, benci, dan ketakutan sebagai motivasi dorongan emosional dalam perilaku orang Sumeria.[31]

Dalam konteks ini, karakter Batak bisa ditelaah selain dari mitologinya, terutama dari umpama, umpasa, torsatorsa, an­dungandung dan tonggotonggo (amsal kebajikan, amsal berkat, cerita rakyat berisi nasehat, ratapan dan doa) asli Batak; Tentu, akan sangat lebih baik oleh orang Batak sendiri yang memiliki keahlian tentang hal ini. Karena orang asing akan sangat kesulitan menelaahnya, sebab semuanya hal tersebut tidak ditemukan lagi Pustaha Batak-nya, entah memang dari dahulunya tidak ada (walaupun ada yang mengatakan dahulu ada), atau ada pihak-pihak yang sengaja menghancurkannya supaya tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya sehingga suku bangsa Batak diarahkan pada masyarakat tanpa sejarah; atau untuk mengaburkan dan memalsukan sejarah Batak, serta untuk memutuskan hubungan dengan leluhur dengan mengatakan berulang-ulang bahwa leluhur Batak itu bodoh, biadab, kanibalis dan primitif.[32] Tetapi, Batak punya kearifan Pustaha Empiris tentang semua itu, yang sampai saat ini masih hidup dan menyala di hati Hita Batak; Di samping sebagian telah ditu­lis sejak WM Hoetagaloeng dalam buku Poestaha taringot toe tarombo ni Bangso Batak (1926); HB Siahaan, Gelar Mangaraja Asal, menulis buku Patik dohot Oehoem ni halak Batak (1938) dan Raja Patik Tampubolon menulis Pustaha Tumbaga Holing: Adat Batak – Patik Uhum (1964); dan penulis Batak lainnya.

Secara khusus, dua putra terbaik Batak yang mengabdikan hidupnya sebagai imam (pendeta Protestan dan pastor Katolik) yakni Pendeta Dr. Philip Order Lumban Tobing dan Uskup Agung Mgr. Dr. Anicetus B Sinaga, OFM, Cap, meneliti secara ilmiah (disertasi doktoralnya masing-masing, 1956 dan 1975) tentang mitologi Batak tersebut, dimana kedua imam Batak itu menyebut Debata Mulajadi Nabolon tersebut sebagai The High God (Allah Tinggi) orang Batak, dengan mengkhususkannya (batasan penelitian) Batak Toba.

Dalam pandangan kita, kedua imam dan cendekiawan tersebut adalah Parhapistaran Batak atau Filsuf Batak, yang telah menyajikan filsafat leluhur suku bangsanya (Batak) berstandar filsafat (logos), bahkan bisa disebut Teolog Batak: Teologi Batak. Bahwa Mitologi Batak itu ‘setara’ dengan mitologi Mesopotamia (Sumeria dan Babilonia), Mesir dan lain sebagainya. Maka kedua filsuf Batak tersebut, dalam kata hati rasa hormat kita, walaupun tak bermaksud membandingkannya, melainkan lebih bermaksud mengormatinya: Tak ubahnya seperti penghormatan kepada Plato dan Aristoteles yang telah menggunakan filosofi Yunani untuk mewarnai pewahyuan Yahudi dan pemikiran (dogma, doktrin, teologia) Kristen, yang telah menjadi kekuatan peradaban besar dunia Barat dan belahan dunia lainnya, selama berabad-abad.[33]

Pendeta Dr. Philip Lumban Tobing dalam tesisnya (1956)[34] mendeskripsikan Debata Mulajadi Na Bolon tersebut sebagai The High God (Illahi Tertinggi) yang meru­pakan eksistensi Sang Pencipta yang mutlak transenden sebagai totalitas Tritunggal Debata yang menguasai kosmos dalam harmonisasi makrokosmos, masing-masing Debata Batara Guru menguasai Banua Ginjang (Benua Atas), Debata Soripada (Sori Sohaliapan) menguasai Banua Tonga (Benua Tengah) dan Debata Mangala Bulan menguasai Banua Toru (Benua Bawah); Juga disebutnya sebagai Tritunggal Primitif. Sehingga beberapa ahli menyebut tesis Tobing sebagai Teologia Batak.

Rodney Needham (1957) dari Universitas Oxford dalam American Anthropologist 1957, meriview disertasi Philip Tobing, menyebut: “Tobing, dirinya seorang Batak Toba dan seorang Kristen, telah bekerja dengan perhatian ilmiah dan kecerdasan imajinatif yang besar dalam menganalisis struktur kepercayaan Batak Toba pada Tuhan yang tinggi sebagai fakta sosial total. Kajiannya terdiri dari (1) penerjemahan dan analisis mitos-mitos dalam kumpulan manuskrip Batak di Leiden, dan lainnya yang dicatat olehnya di Sumatera; (2) studi tentang konsep Batak tentang esensi, roh dan dewa, dan ruang dan waktu; dan (3) hubungan tema dan konsep, melalui pernyataan dan simbol, dengan masyarakat Batak. Meskipun beberapa bagian dari argumennya lemah, ia berhasil menunjukkan kesatuan struktural dalam dewa dan kekuatan mereka, bentuk kosmos Batak, dan hubungan mendasar masyarakat Batak. …. Yang penting adalah kecerdikan meyakinkan dari ketajaman Tobing tentang struktur total dunia Batak. Analisisnya merupakan kontribusi tingkat pertama untuk studi struktur simbolik.”[35]

Sementara, Uskup Mgr. Dr. Anicetus B Sinaga (1975), yang menyebut Allah Tinggi Mulajadi Nabolon dalam tiga unsur Debata batara Guru, Soripada dan Mangala Nulan, sebagai Trimurti Batak, melukiskan Allah Tinggi Mulajadi sebagai Mysterrium Tremendum dan Fascinosum, yang serentak jauh dan mesra (transenden dan imanen), hadir aktual untuk menyelamatkan, sebagai alfa dan omega: “Empu Raja Awal-mula, Empu Raja Permulaan, berasal dari yang tak bermula, dan akhirnya tidak dinyana: Dialah Pemula segala yang ada; Dia Pemrakarsa dan juga akhirnya; Dialah Pemilik segala ciptaannya; Dialah berkatnya, Dialah nafasnya.”[36] Itulah inti dan kekuatan Mitologi Batak.

 

‘Pendahuluan’ Bab Dua Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 1. Selengkapnya baca buku tersebut. Informasi lebih lanjut, kunjungi: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   KBBI, 2008: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Edisi Keempat, Departemen Pendidikan Nasional; Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, h.922.

[2]   Douglas, J.D., dkk (Ed), 1997: The New Bible Dictionary, Terj: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, h.315.

[3]   Ibid.

[4]   Carus, Paul, 1901: De Godsdienst der Wetenschap, Utrecht: H. de Vroede, b.87.

[5]   Carus, Paul, 1901: b.88-89.

[6]   Si Raja Batak, dalam mitologi ini dikisahkan sebagai nenek moyang seluruh Bangso Batak (Toba, Angkola-Mandailing, Simalungun, Karo dan Pakpak-Dairi) dengan berbagai variasinya.

[7]   Nieuwenhuys, Rob (Editor), 1982: H. Neubronner van der Tuuk, De pen in gal gedoopt, Een keuze uit brieven en documenten, Amsterdam: Em. Querido’s, b.62.

[8] Sinambela, Poernama Rea, 1992: Ayahku Si Singamangaraja XII Pahlawan Nasional, Aksara Persada Indonesia, h. 21.

[9]   Radermacher, J.C.M., 1787: Beschryving van Het Eiland Sumatra, in Zo Verre Het Zelve tot Nog toe Bekend Is; in Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, Derde Deel; Rotterdam: Reinier Arrenberg; Amsterdam: Johannes Allart; Batavia: Egbert Heemen, b.15-18.

[10]  Marsden, William, FRS, 1811: The history of Sumatra, The Third Edition, With Corrections, Additions, and Plates, London: J. M’Creery, p.385.

[11]  GKN, 1870: Bijdrage Tot De Kennis van den Godsdienst der Bataks; in Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Wolter Robert Baron van Hoëvell, Ed.), Derde Serie, 4de Jaargang, Eerste Deel; Utrecht: Bij Joh. Noman en Zoon, b.288.

[12]  GKN, 1870: b.288.

[13]  Marsden, William, FRS, 1811: p.384-385.

[14]  Radermacher, J.C.M., 1787: b.25-28.

[15]  Radermacher, J.C.M., 1787: b.28.

[16]  Joustra, M., 1907: Karo-Bataksche Vertellingen (1e stuk), ini Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Deel LVI, Batavia: Albrecht & Co. & ‘s Hage: M. Nijhoff, b.1.

[17]  Scull, Sarah Amelia, 1880: Greek Mythology Systematized, Philadelphia: Porter & Coates, p.9.

[18]  Scull, Sarah Amelia, 1880: p.9-10.

[19]  Thompson, Stith, 1955: Myths and Folktales; in MYTH A Symposium (Thomas Albert Sebeok, Ed.), Volume 5, Bibliographical and Special Series, of the American Folklore Society, Philadelphia: Ameri-can Folklore Society, p.105-107.

[20]  Toy, Crawford Howell, 1913: Introduction to The History of Religions; in A Series of Handbooks on The History of Religions (Morris Jastrow, Jr., Editor), Volume IV, Boston-New York-Chicago-London: Ginn and Company, p.380.

[21]  Toy, Crawford Howell, 1913: p.363.

[22]  Bidney, David,  1955: Myth, Symbolism, and Truth; in MYTH A Symposium (Thomas Albert Sebeok, Ed.), Volume 5, Bibliographical and Special Series, of the American Folklore Society, Philadelphia: American Folklore Society, p.11..

[23]  Bidney, David,  1955: p.11-12.

[24]  Bidney, David,  1955: p.12.

[25]  Jordan, Louis Henry, 1915: Comparative Religion: its adjuncts and allies, London, New York [etc.]: H. Milford, Oxford University Press, p.96.

[26]  Jordan, Louis Henry, 1915: p.99.

[27]  Jordan, Louis Henry, 1915: p.99-100.

[28]  James, E.O., Rev. Prof. (without years): The Beginnings of Religion, An Introductory and Scientific Study, New Yor- Melbourne-Sydney-Cape Town: Hutchinson’s University Library, p.139.

[29]  James, E.O., Rev. Prof. (without years): p.139.

[30]  James, E.O., Rev. Prof. (without years): p.140.

[31]  Kramer, Samuel Noah, 1963: The Sumerians, Their History, Culture, and Character, Chicago & London: The University of Chicago Press, p.249-268.

[32] Bandingkan: Lina, Jüri, 2004: Architects of Deception,  The Concealed History of Freemasonry, Stockholm: Referent Publishing, p.12.

[33]  Oordt, Jan Willem Gerbrand van, 1895: Plato and The Times He Lived In, The Hague: Martinus Nijhoff; Oxford: James Parker & Co., p.1-2.

[34]  Tobing, Philip O Lumban, 1956: The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God, Amsterdam, Vergouwen, Jaoob van Campen.

[35]  Needham, Rodney, 1957: Book Review: The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God. Ph. L. Tobing (1956);  American Anthropologist 1957-08: Vol 59 Number 4; Menasha, Wisconsin, USA: American Anthropological Association, p.740.

[36]  Sinaga, Anicetus B., Dr, 2014: Allah Tinggi Batak-Toba, Transendensi dan Imanensi, Yogyakarta: Kanisius, h. 236

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here