Pelayan dan Pembelajar Indonesia

[ Jonathan Parapak ]
 
0
551

05 | Jiwa Wiraswasta Sejak SMP

Jonathan Parapak
Jonathan Parapak

Untuk sedikit meringankan beban ekonomi, jiwa wiraswastanya mulai muncul saat masih di SMP. Dalam skala amat kecil, ia berdagang ayam, pisang dan gula-gula (permen). Namun semua tantangan itu tidak menyurutkan tekadnya untuk belajar.

Dia memang dikaruniai Tuhan kecerdasan sehingga pelajaran tidak menjadi beban. Nathan tamat Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar), dan Sekolah Menengah Pertama dengan hasil yang baik sehingga dapat melanjut ke Sekolah Menengah Atas yang baru dibuka di Rantepao ketika itu.

Keadaan sekolah cukup memprihatinkan. Tidak ada guru tetap, semua adalah pengerahan tenaga mahasiswa (PTM), ruangan kelas dibentuk dari aula yang dipinjam. Nathan belajar di SMA di Rantepao sampai kelas II. Untuk kelas III, oleh kakak ipar ia diantar ke Makassar untuk menyelesaikan pelajaran di SMA Negeri Bawakaraeng. Dia lulus SMA tahun 1961 dengan hasil baik, walaupun ia selama setahun di Makassar tinggal di asrama yang kurang terurus, makanan sangat kurang dan lingkungan tidak terlalu mendukung untuk belajar dengan baik.

Selepas dari SMA, Nathan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada waktu yang bersamaan ia mengikuti proses seleksi beasiswa Colombo Plan. Ternyata Nathan terpilih dan ia bersama beberapa mahasiswa lainnya berangkat ke Australia, November 1961.

Keberangkatan ke Australia, tidak pernah menjadi cita-cita apalagi menjadi rencananya. Dengan berbekal tekad untuk sukses dan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas, perlengkapan yang jauh dari memadai, dia menuju arena baru yang secara budaya amat asing baginya. Ia bersama lebih dari 40 mahasiswa Indonesia dipersiapkan selama 2 bulan di Sydney. Kemudian dikirim ke Universitas Tasmania.

Nathan yang tidak pernah hidup dalam rumah yang diterangi listrik sampai pindah ke asrama di Makassar, memberanikan diri mengambil jurusan listrik arus lemah (telekomunikasi). Kuliah di Fakultas Teknik Universitas Tasmania itu dirasakan cukup berat. Kuliah mulai pukul 09.00 pagi sampai pukul 13.00 setiap hari, disambung dengan praktikum dari pukul 14.00 sampai 17.00, sering sampai malam.

Di samping bahasa Inggris yang masih terbatas, latar belakang tekniknya sebagai anak desa kurang mendukung. Namun tekadnya untuk belajar sebaik mungkin tak pernah surut. Nathan menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil yang cukup baik. Sehingga ia diterima melanjutkan studi pada strata II, Program Master of Engineering Science, yang diselesaikan tepat waktu pula.

Di samping perkuliahan, ia melibatkan diri dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kemasyarakatan sehingga ikut membentuk dirinya dalam kepemimpinan dan bekerja sama dengan berbagai unsur masyarakat. Ia ikut menjadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tasmania. Pengurus dan bahkan Ketua Persekutuan Mahasiswa Kristen di universitas. Dia juga sempat menjadi pengurus Gereja setempat.

Salah satu aspek yang menarik dari pembelajaran yang dialaminya di Australia adalah keharusan untuk kerja praktik selama libur di bidang yang sesuai dengan program studi. Kesempatan itu merupakan pengalaman yang amat berharga selama 5 tahun bekerja di berbagai tempat. Seperti bengkel lokomotif, kantor perencanaan sistem komunikasi radio, instalasi sistem komunikasi radio di Tasmania. Perencanaan sistem komunikasi microwave di Tasmania dan di Melbourne, Australia. Bersambung Ch. Robin Simanullang

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here