Al-Zaytun dan Pusaran Kontroversi

AS Panji Gumilang Al-Zaytun dan Pancasila Al-Zaytun Patut Dicontoh Al-Zaytun yang Terbaik Al-Zaytun, Islam Milenium Ketiga Globalisasi dan Pendidikan Gula dan Semut Hentikan Fitnah Al-Zaytun Indonesia Karunia Ilahi Imperialisme dan Persatuan Indonesia Isu NII dan Implementasi Pancasila Kembalikan Fungsi MPR Kolaborasi Musik Nusantara Pelopor Pendidikan Terpadu Menikmati Sholat Id di Al-Zaytun Peringatan Lahirnya Pancasila di Al-Zaytun Politik Pangan Minus Kemandirian Pengantar Buku Life Begins at Seventy Tokoh Pembawa Damai dan Toleransi Zone of Peace and Democracy Visi Indonesia Raya 2024-2050 Syaykh Al-Zaytun: Cek Kosong, Negara Tanpa GBHN Tenunan Pendahulu Telah Dirobek-robek
 
1
785
Ch. Robin Simanullang memaparkan kesaksian tentang toleransi di Al-Zaytun di program Apa Kabar Indonesia Siang TVOne

Oleh Ch. Robin Simanullang: Sholat Id 1444 H di Masjid Rahmatan Lil’Alamin, Al-Zaytun sangat ramai diperdebatkan, di antaranya tentang adanya jamaah perempuan di shaf pertama dan juga seorang kristiani, serta jarak yang renggang dan adanya kursi. Belum lagi tentang substansi khutbah Syaykh Al-Zaytun Prof. Dr. AS Panji Gumilang tentang keberadaan Israel di Tanah Kanaan-Palestina yang seolah mereka penjajah. Kemudian, beberapa pihak kembali mengaitkan Al-Zaytun dengan NII, anti-Pancasila, Islam aliran keras, intoleran, mengkafir-kafirkan orang lain, dan lain isu negatif lainnya.

Saya adalah seorang kristiani sahabat Al-Zaytun yang sudah 20 kali menghadiri dan mengikuti Sholat Id di Kampus Hijau bersemangat pesantren dan bersistem modern ini. Kali ini (Sholat Id 1444 H) saya mendapat kehormatan luar biasa karena dipersilakan duduk di kursi shaf paling depan dan paling tengah. Hal ini memungkinkan karena adanya kursi dan jarak yang renggang yang diberlakukan sejak pandemi Covid-19 yang disikapi dengan Orde Hidup Baru. Biasanya, ketika sholat berjamaahnya dengan jarak rapat (hanya sedikit jarak), saya duduk di pinggir atau di pelataran. Tentang hal ini saya sudah tulis secara singkat bertajuk ‘Menikmati Sholat Id di Al-Zaytun’ dan saya mendapat kesempatan (kehormatan) memaparkannya di program Apa Kabar Siang TVOne bertajuk ‘Toleransi ala Al-Zaytun’.

@tokoh.id

Al-Zaytun dan Pusaran Kontroversi alzaytunsumberinspirasi alzaytun panjigumilang tokohid toleransi alzaytunboardingschooll alzaytunindramayu alzaytunviral

♬ original sound – Tokoh Indonesia – Tokoh Indonesia

Selain bentuk penghormatan tertinggi (dalam benak saya), hal yang paling menarik perhatian saya setiap kali mengikuti Sholad Id (maupun acara-acara lainnya) di Al-Zaytun adalah substansi khutbah atau tausiyah Syaykh Panji Gumilang (dimana saya seringkali berdialog berjam-jam dengan beliau); yang selalu mencerahkan sesuai motto pesantren ini sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Bahkan seringkali saya memaknainya sebagai khotbah/tausiyah dan/atau dialog Pancasila yang bersifat universal; dan sebagai jurnalis selalu saya tulis di Majalah Berita Indonesia dan Website/Majalah TokohIndonesia.com.

Pada tahun 2015, saya ‘merangkum dan memaknai’ berbagai tulisan itu dalam buku berjudul: AL-ZAYTUN SUMBER INSPIRASI Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara. Berikut ini saya cuplik salah satu Sub-Prolognya bertajuk ‘Al-Zaytun dan Pusaran Kontroversi’.

Ketika saya pertama kali bertemu dan berjabat tangan dengan Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang (Kamis 19 Februari 2004), saya memperkenalkan diri dengan cara yang tidak lazim:

Saya Christian Robinson Simanullang. Kita berbeda aliran, saya seorang Kristiani!”

Itulah kalimat pertama yang terucap. Tentu, hal itu bukanlah cara perkenalan yang pantas. Tetapi kali ini, saya memang sengaja memilih kata itu berhubung berbagai pemberitaan kontroversial tentang kehadiran Pondok Pesantren Al-Zaytun (Ma’had Al-Zaytun) dan pribadi Syaykh Abdussalam Panji Gumilang sendiri sebagai penggagas, pendiri dan pemimpinnya yang antara lain dikait-kaitkan dengan NII (Negara Islam Indonesia)[1], Islam garis keras, sarang teroris dan sesat.

Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi. Jendela Dunia Melihat Al-Zaytun

Sejak tahun 2000 telah muncul gonjang-ganjing atas kehadiran spektakuler pondok pesantren (ponpes) modern (Kampus Al-Zaytun) tersebut. Berbagai media ramai memberitakannya. Maklum, ponpes yang berdiri megah dan modern di atas lahan seluas 1200 hektar jauh di pelosok Dusun Sandrem, Desa Mekarjaya (pemekaran Desa Gantar), Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, itu dibangun pada saat krisis multidimensional tengah melanda negeri ini, disusul gerakan reformasi yang memaksa Presiden Soeharto lengser keprabon (21 Mei 1998). Lalu hanya satu tahun berikutnya, tepatnya pada 27 Agustus 1999, Presiden Republik Indonesia Prof. BJ. Habibie meresmikan Ma’had Al-Zaytun tersebut.

Banyak orang yang terheran-heran, ada yang kagum, takjub! Tapi ada pula yang bersakwasangka dan bernada iri dan dengki, senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Advertisement

Koq bisa? Dalam kondisi banyak pengusaha yang bangkrut dan negara pun lagi kelimpungan, menggaji pegawai saja harus ngutang, serta jutaan rakyat harus ngantri bantuan sembako baru bisa makan, koq ada yang bisa membangun Ponpes sehebat itu? Siapa pemiliknya dan dari mana biaya pembangunannya?

Muncul berbagai dugaan dan spekulasi. Semula banyak orang, termasuk saya sendiri, menduga Al-Zaytun proyeknya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia)[2]. Dugaan ini muncul lantaran ormas ini lagi berada dalam pusaran puncak kekuasaan (mengambil-alih pengaruh ABRI di Golkar) di mana Ketua Umumnya Prof. BJ Habibie menjabat Presiden RI menggantikan Presiden Soeharto. Apalagi Presiden BJ Habibie sendiri yang meresmikan Ponpes tersebut.

Ada pula yang berspekulasi bahwa ponpes ini didanai oleh pihak asing. Dugaan terkuat dana dari Timur Tengah sebagai bagian dari ekspansi gerakan Islam transnasional yang dimotori Wahabi (Wahabisme)[3] atau Ikhwanul Muslimin[4] yang terbilang ekspansif mengembangkan sayap di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Hal mana menurut KH. Abdurrahman Wahid, pada umumnya aspirasi kelompok garis keras di Indonesia dipengaruhi oleh gerakan Islam transnasional dari Timur Tengah, terutama yang berpaham Wahabi atau Ikhwanul Muslimin, atau gabungan keduanya.[5]

Bahkan ada pula yang berspekulasi menduga didanai oleh Pemimpin Libya Moammar Khaddafi[6]. Dugaan lebih ‘seru’ didanai oleh Al-Qaeda[7] pimpinan Osama bin Laden[8]. “Gambaran saya sebelumnya bahwa pesantren ini mendapat bantuan dari Timur Tengah,” kata Prof. DR. Dawam Rahardjo[9], salah seorang pendiri dan Ketua ICMI serta Ketua Tim Penasihat Presiden BJ Habibie (1998-1999), memberi pandangan tentang siapa yang mendanai pembangunan Al-Zaytun.

“Ternyata tidak! Melainkan dari Allah melalui mekanisme umat,” lanjut Dawam Rahardjo setelah berkunjung ke Al-Zaytun, 14 Desember 2000. Dawam pun menyatakan rasa kagum karena proyek semacam ini jika dirancang dengan perhitungan bisnis semata jelas tidak feasible. Tapi ternyata melalui mekanisme umat bisa dilakukan. “Mekanisme ini perlu kita ketahui bersama supaya kelompok umat Islam yang lain perlu dan bisa melaksanakan seperti yang dilakukan oleh Al-Zaytun. Maka kita di sini belajar dan ICMI menjadi perantaranya. Jika bisa, maka akan diberlakukan di tempat lain,” ujar Dawam kala itu.

(Bersambung: Tapi anehnya, di lain pihak ada pula yang menduga didanai oleh Central Intelligence Agency (CIA) badan intelijen Amerika Serikat).

Footnote:

[1] Negara Islam Indonesia (NII), juga dikenal dengan nama Darul Islam (DI) yang berarti Rumah Islam, sebuah gerakan makar untuk mendirikan negara berdasarkan (ideologi) Islam, di mana hukum yang tertinggi adalah Al-Quran dan Hadits dan menolak ideologi (dasar negara) Pancasila, yang mereka sebut sebagai ideologi kafir dan hukum kafir. NII tersebut diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (12 Syawal 1368 Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ada beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII, di antaranya ada di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Pemerintah RI bereaksi membasmi gerakan politik dan pemberontakan NII (makar) tersebut. Dan setelah melalui perburuan panjang berhasil menangkap Kartosoewirjo di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. SM Kartosoewiryo pun menginstruksikan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Pemerintah Indonesia kemudian mengeksekusi mati Kartosoewirjo pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Sejak itu, organisasi ini dilarang (ilegal) oleh pemerintah Republik Indonesia.

[2] ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang yang berlangsung tanggal 6-8 Desember 1990. Pada pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama. BJ Habibie bersedia tapi harus minta persetujuan Presiden Soeharto lebih dulu. Kemudian, pada tanggal 27 September 1990, dalam sebuah pertemuan di rumahnya, BJ Habibie memberitahukan bahwa usulan sebagai pimpinan wadah cendekiawan muslim itu disetujui Presiden Soeharto. Menurut Habibie, Presiden Soeharto juga mengusulkan agar wadah cendekiawan muslim itu diberi nama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, disingkat ICMI. Menjelang reformasi 1998, ICMI telah menjadi organisasi yang sangat berpengaruh secara politik. Bahkan pada awal reformasi sempat paling berpengaruh dalam arah politik Golkar mengalahkan pengaruh TNI/ABRI yang selama 32 tahun sangat berpengaruh dominan di Golkar.

[3] Wahhabisme adalah aliran atau gerakan keagamaan Islam yang menganjurkan membersihkan Islam dari ’ketidakmurnian’ (versi mereka). Sebuah aliran Islam yang berasal dan berorientasi dari Arab Saudi. Gerakan ini dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, Arab Saudi, pada abad ke-18. Wahhabi telah mengembangkan pengaruh yang cukup besar di dunia Muslim melalui pendanaan masjid Saudi, sekolah dan program sosial. Aliran ini gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dengan mereka.

[4] Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) berdiri di kota Ismailiyah, Mesir, Maret 1928. Didirikan Hassan al-Banna, bersama enam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. Ikhwanul Muslimin adalah salah satu jamaah dari umat Islam, mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah, bekerja dengannya dan untuknya, keyakinan yang bersih menghujam dalam sanubari, pemahaman yang benar yang merasuk dalam akal dan fikrah, syariah yang mengatur al-jawarih (anggota tubuh), perilaku dan politik.

[5] KH. Abdurrahman Wahid (Editor), Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, The Wahid Institute, Jakarta, 2009, hlm.20.

[6] Muammar Khadafi bernama lengkap Muammar Abu Minyar al-Qaddafi, lahir di Surt (Sirte), Tripolitania, 7 Juni 1942 dan meninggal secara tragis di Sirte, 20 Oktober 2011 di tangan ’pemberontak’ (oposisi) atas dukungan NATO. Dia penguasa otokratis Libya selama hampir 42 tahun (1969 sampai 2011), setelah merebut kekuasaan dengan kudeta militer. Dia menyebut dirinya sebagai The Brother Leader, Guide of the Revolution, dan King of Kings (Raja segala raja).

[7] Al-Qaeda atau Al Qa’idah (Akidah, fondasi atau dasar) adalah suatu organisasi paramiliter fundamentalis Islam Sunni yang salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi pengaruh luar terhadap kepentingan Islam. Al-Qaeda digolongkan sebagai organisasi teroris internasional oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, PBB, Britania Raya, Kanada, Australia, dan beberapa negara lain. Sebagian besar anggotanya yang berpengaruh dianggap mengikuti manhaj Salafi. (Wikipedia)

[8] Osama bin Laden atau Usamah bin Muhammad bin Awwad bin Ladin (bahasa Arab), lahir di Jeddah, Arab Saudi, 10 Maret 1957, anak ke-17 dari 52 bersaudar. Pendiri dan pimpinan Al Qaeda ini meninggal di Abbottãbad, Pakistan, 2 Mei 2011 ditangan militer AS.

[9] Prof. Drs. Dawam Rahardjo, saat berkunjung ke Al-Zaytun pada 14 Desember 2000. Dawam Rahardjo lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 April 1942. TokohIndonesia.com mengapresiasinya sebagai cendekiawan pejuang pluralisme. Belakangan, karena keberaniannya memperjuangkan pluralisme, dia dikeluarkan dari PP Muhammadiyah. Karirnya: Pemimpin jurnal ilmiah Prisma (1980 – 1986); Direktur LP3ES (1980 – 1986); Guru besar ilmu ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (1993); Pengajar Universitas 45 Bekasi; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Pusat (1995 – 2000); Dekan Universitas As Syafi’yah; Direktur pelaksana Yayasan Wakaf Paramadina (1988 – 1990); Direktur Pusat Pengembangan Agribisnis (1992); Ketua Tim Penasihat Presiden BJ Habibie (1999); Rektor Universitas 45 (1994 – 2004); Ketua Dewan Direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat.

 

1 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum Merdeka Semoga Allah SWT Memberikan Kesehatan Paripurna Rezeki nan Sempurna teruntuk YAB SYAYKH AL-ZAYTUN Umi dan Keluarga Besar Ma’had Al-Zaytun dimanapun Berada
    Sukses Selalu Greens Ekonomi dan Blue Ekonomi dimanapun kita Bertugas
    Terima Kasih Pak Robin Simanulang Tuhan Memberkati.
    Alhamdulillah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini